Setelah
setengah hari beraktivitas, sambil menahan lapar dan dahaga, tidur siang adalah
langkah tepat. Tapi pengajian dimulai sekitar pukul satu siang. Pergi tidur dan
pergi mengaji, berkelindan di benak saya.
Jika
pertentangan dua hal itu merasuki pikiran, saya segera melintaskan dua pedagang
yang biasa hadir dalam pengajian itu. Dan saya pun bergegas pergi mengaji.
Berbeda
dari pedagang-pedagang lain yang menjual makanan, pedagang balon rajin
menyambangi tempat pengajian. Ia menawarkan dagangannya kepada jemaah yang
mengajak anak-anak kecil. Ia terkadang datang dua kali dalam durasi pengajian
hampir dua jam. Padahal, jemaah yang hadir dan anak-anak kecil yang diajak tak
berbeda. Sewajarnya, orang membeli mainan yang sama satu kali. Tapi ia lalu lalang,
ke jemaah wanita, lalu ke jemaah lelaki.
Satu
lagi wanita lansia pedagang asongan yang menjual bermacam-macam jepit rambut,
karet rambut, cotton bud, serabut pencuci piring, tutup termos, dll.
Ketika jalan tanpa beban, saya yakin kakinya terseok-seok. Apalagi ia harus
menarik gerobak minimalisnya. Gerobak beroda dua itu disangganya dengan kotak
bekas wadah es krim agar berdiri ketika ia duduk bergabung dengan jemaah. Ia
beristirahat sambil mendengarkan bacaan Al-Qur’an diselingi ceramah dari Pak
Ustaz. Sesekali kantuk menyetainya.
Tak
seperti para pedagang makanan yang laris manis, saya pernah duduk di sampingnya
hingga pengajian selesai, tak satu pun pembeli membeli dagangannya.
“Setiap
hari pasti ada yang beli, ya, Bu?” tanya saya berempati, bagaimana dia makan
dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan lain.
“Yah,
disyukuri saja,” jawabnya senyum-senyum, tak mau menjelaskan detail. Kami
berbincang selesai salat Asar. Sesekali kami menyalami jemaah, yang menuruni
undakan masjid, untuk pulang.
Lalu
dia bercerita tentang anak-anaknya yang tak pernah menyantuni. Ia tinggal di
sebuah rumah yang tidak lagi ditempati pemiliknya. Sebetulnya ia juga menjual
beberapa mainan anak-anak. Tapi modalnya tak kembali karena uangnya untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya. Saya manggut-manggut dan mendoakan dalam hati agar
ia diberi rezeki sehingga dagangannya tetap ada. Ketika saya bertanya apakah ia
juga berbuka puasa di masjid ini, saya tersadar mendengar jawarabannya. Ia
berbuka di masjid lingkungan tempat tinggalnya. Ia tidak berani pulang malam. Ia
butuh waktu lama berjalan dari masjid ke rumahnya, sambil menarik gerobak
minimalisnya.
Satu
orang bersandar di pilar serambi masjid dengan mata terpejam. Dua lainnya tergeletak
di lantai. Aroma sedap makanan dari penjaja makanan di alun-alun melintas. Daun-daun
kemboja bergerak-gerak saat angin bertiup. Kami berpisah. Pedagang asongan
menarik gerobaknya; jalannya satu langkah satu langkah. Di antara perjalanan
pulang, saya melihat langit terang di ujung sana.
@@@
Tidak ada komentar:
Posting Komentar