Pak
Ustaz menerjemahkan dan memberi keterangan-keterangan ayat-ayat suci yang
dilantunkan. Keterangan-keterangan itu, selalu dihubungkan dengan kehidupan
sehari-hari. Ia akan kembali membacakan ayat-atat suci lalu menerjemahkan dan
memberi keterangan-keterangan, demikian seterusnya hingga waktu jelang Asar. Dan
menurut jadwal pengurus, pengajian dan khataman akan dilakukan tanggal 25
Ramadan.
Langit mendung. Angin bertiup sejuk.
Suara kendaraan-kendaraan terdengar ramai, dari para pembeli yang memenuhi
kebutuhan Lebaran. Mereka berbelanja di pertokoan seberang jalan sisi kanan
masjid.
Sebagian
jemaah mendengarkan. Sebagian lain mencatat. Sebagian lagi mengantuk. Pandangan
saya menyapu jemaah yang duduk di tengah, dan di pojok-pojok serambi masjid.
Saya tak menemui pedagang keripik. Saya suka keripik tumpi(keripik kacang
hijau). Mungkinkah pedagangnya tidak berjualan? Atau ia duduk di masjid bagian
dalam? Saya duduk di undakan. Gerak saya leluasa.
Pedagang
keripik menjual dagangannya sambil lalu. Ia duduk santai di tempat-tempat
strategis. Ia menawarkan dagangannya di dalam tas anyaman, kepada orang-orang
yang lalu lalang di depannya.
Berbeda
dengan pedagang-pedagang makanan lain, mereka menemui para calon pembelinya
satu per satu. Ada pedagang tetap menawari walaupun saya tidak pernah membeli
karena tak suka dagangannya.
Ada
juga pedagang datang di tengah pengajian berlangsung. Ia duduk sebentar, sambil
mencari-cari orang-orang yang pernah membeli dagangannya. Setelah menemukannya,
ia tak segan nimbrung dan duduk di sebelah orang tersebut.
Saya
harus menunda makan keripik jika tak menemukan pedagangnya. Karena kesibukan
malam, saya tak punya waktu menikmati keripik. Saya tadarus bersama teman-teman
setelah tarawih. Dan tadarus 30 juz selesai pertengahan Ramadan. Saya berjanji
akan membeli keripik setelah tadarus selesai.
Kami menutup Al-Qur’an. Pak Ustaz
baru saja mengakhiri pengajian dengan doa. Tak lama kemudian…
Pluk!
“Apa ini?” tanya saya kaget.
Saya belum sempat mengucapkan terima
kasih kepada teman yang menjatuhkan tas kresek di pangkuan saya. Ia gegas pergi,
tak mau tersalip mendung menjatuhkan airnya. Dan, sebahagia mendapatkan baju
Lebaran, saat saya mengetahui isinya: sebungkus keripik tumpi.
Suara azan terdengar; saya segera
memenuhi panggilannya.
@@@
Tidak ada komentar:
Posting Komentar