Waktu
menunjuk pukul setengah enam. Matahari belum tampak walau sudah waktunya terbit
menurut penanggalan. Pengajian selesai. Tapi keresahan saya belum menemukan
penyelesaian. Tidak seperti biasanya, dua kali saya mengikuti pengajian, masih
ada yang belum tuntas. Bukan masalah kehidupan. Sesuatu yang saya anggap hal kecil itu kini menjadi berarti.
Ada undangan milad ke-7 pondok pesantren tempat Ustaz pengajar setiap Rabu pagi
itu. Tergelitik saya menghadiri, tapi mencari alamat pinggir kota, mungkin
masuk ke pelosok. Seorang teman memberitahu, bahwa ia pernah ke sana, tapi pernyataannya
membingungkan.
“Bukan Pondok Pesantren “Roudhoh”,
tapi “Kapal Ijo”,” koreksinya kemudian pada perjumpaan berikutnya.
“Makanya, apa aku bilang,” kata saya
merasa lega.
Saya
mulai menanggapi sebab penyataannya menuju pencerahan. Ada bangunan kapal,
lambungnya berwarna hijau, sebagai tanda Pondok Pesantren Doaqu, kepanjangan
dari Doa Ahlul Qur’an, begitu nama pondok pesantren tempat Ustaz itu sebagai pembina.
Bagunan kapal itu terletak di depan pondok, begitu gambar yang saya lihat saat browsing.
Mungkin agar orang-orang mudah mencarinya, terlebih bagi yang belum pernah berkunjung
ke sana.
Sekitar
satu jam waktu saya butuhkan dari menunggu bus Transsemarang jurusan Gunung
Pati, hingga perjalanan sampai di tempat tujuan. Seorang penumpang lelaki,
kebetulan wali santri pondok tersebut, dan kondektur bus, menyebutnya Pondok Pesantren
“Kapal Ijo” atau “Kapal Hijau”. Letaknya di pinggir jalan Sadeng, Gunung Pati,
Semarang. Dari arah Simpang Lima, turun di Sadeng, lalu menyeberang.
Ketertarikan
saya lantaran sosok Ustaz Riyadh Ahmad Riyadin, AH. Kehadiran saya di pondoknya
sebagai apresiasi atas ceramah-ceramahnya yang simpel tapi mengena. Jamaah awam
mudah mengerti uraian-uraian setiap ceramahnya, sekaligus mendapat solusi sederhana.
Sebab kalau untuk mendengarkan ceramahnya, saya bisa menghadiri setiap Rabu
pagi, sehabis salat Subuh di MAS (Masjid Agung Semarang).
Pondok
Pesantren Doaqu memberi dua pembelajaran: Madarasah pesantren dengan 2 jurusan:
tahfiz atau hafalan dan kitab, dan sekolah kontekstual: menanam, konten, dan
menggembala kambing. Sekolah kontekstual mengacu pada perkembangan zaman. Para santri
kelak diharapkan mandiri dengan hasil produksi yang mereka tanam, mampu menghadapi
era digital, saatnya sosmed kerja untuk pahala dan masa depan, dan mendapat
pengalaman leadership dari menggembala kambing. Semua itu sesuai visi
dan misi pondok: mencetak generasi Qurani yang alim, berakhlaq mulia, serta
siap menghadapi perkembangan zaman. Jumlah santri lelaki 20 orang; jumlah
santri wanita 7 orang.
Tentang
menggembala kambing Ustaz Riyadh memberi catatan rinci, bahwa tidak ada Nabi
dan Rasul pada masa mudanya tidak menggembala kambing. Pasti ada rahasia positif
di baliknya. Dan pembelajaran pada Nabi dan Rasul, pastilah tidak ada yang
salah, setidaknya melatih leadership. Mengingat anak-anak
muda sekarang pandai namun rapuh, mencari penyelesaian secara instan.
Para
santri sebagai penerima tamu menyambut kedatangan setiap tamu. Hidangannya
melimpah, snak dan nasi dari katering mahal, untuk ukuran tamu biasa dan pondok
pesantren berada di pinggir kota. Untuk tamu khusus panitia menyediakan prasmanan.
Ada beberapa tempat wudu wanita sehingga para santri wanita dan para tamu
wanita tidak mengantre. Pondok pesantren sedang giat membangun. Tanah kosong
masih luas.
Setelah
puas mengenal dalam Pondok Pesantren Doaqu, menjelang Asar saya pulang. Saya bersama
teman harus berjibaku menunggu bus Transsemarang. Letak halte di jalan menanjak,
tidak setiap bus bersedia berhenti. Tangan calon penumpang harus melambai sejak
dari jauh, memberi isyarat kepada sopir, untuk mengambil ancang-ancang berhenti.














