Iis Soekandar

Jumat, 23 Januari 2026

Pondok Pesantren “Kapal Ijo”

                                                                                      


                   Waktu menunjuk pukul setengah enam. Matahari belum tampak walau sudah waktunya terbit menurut penanggalan. Pengajian selesai. Tapi keresahan saya belum menemukan penyelesaian. Tidak seperti biasanya, dua kali saya mengikuti pengajian, masih ada yang belum tuntas. Bukan masalah kehidupan. Sesuatu yang  saya anggap hal kecil itu kini menjadi berarti. Ada undangan milad ke-7 pondok pesantren tempat Ustaz pengajar setiap Rabu pagi itu. Tergelitik saya menghadiri, tapi mencari alamat pinggir kota, mungkin masuk ke pelosok. Seorang teman memberitahu, bahwa ia pernah ke sana, tapi pernyataannya membingungkan.

            “Bukan Pondok Pesantren “Roudhoh”, tapi “Kapal Ijo”,” koreksinya kemudian pada perjumpaan berikutnya.

            “Makanya, apa aku bilang,” kata saya merasa lega.

Saya mulai menanggapi sebab penyataannya menuju pencerahan. Ada bangunan kapal, lambungnya berwarna hijau, sebagai tanda Pondok Pesantren Doaqu, kepanjangan dari Doa Ahlul Qur’an, begitu nama pondok pesantren tempat Ustaz itu sebagai pembina. Bagunan kapal itu terletak di depan pondok, begitu gambar yang saya lihat saat browsing. Mungkin agar orang-orang mudah mencarinya, terlebih bagi yang belum pernah berkunjung ke sana.

Sekitar satu jam waktu saya butuhkan dari menunggu bus Transsemarang jurusan Gunung Pati, hingga perjalanan sampai di tempat tujuan. Seorang penumpang lelaki, kebetulan wali santri pondok tersebut, dan kondektur bus, menyebutnya Pondok Pesantren “Kapal Ijo” atau “Kapal Hijau”. Letaknya di pinggir jalan Sadeng, Gunung Pati, Semarang. Dari arah Simpang Lima, turun di Sadeng, lalu menyeberang.

Ketertarikan saya lantaran sosok Ustaz Riyadh Ahmad Riyadin, AH. Kehadiran saya di pondoknya sebagai apresiasi atas ceramah-ceramahnya yang simpel tapi mengena. Jamaah awam mudah mengerti uraian-uraian setiap ceramahnya, sekaligus mendapat solusi sederhana. Sebab kalau untuk mendengarkan ceramahnya, saya bisa menghadiri setiap Rabu pagi, sehabis salat Subuh di MAS (Masjid Agung Semarang).

Pondok Pesantren Doaqu memberi dua pembelajaran: Madarasah pesantren dengan 2 jurusan: tahfiz atau hafalan dan kitab, dan sekolah kontekstual: menanam, konten, dan menggembala kambing. Sekolah kontekstual mengacu pada perkembangan zaman. Para santri kelak diharapkan mandiri dengan hasil produksi yang mereka tanam, mampu menghadapi era digital, saatnya sosmed kerja untuk pahala dan masa depan, dan mendapat pengalaman leadership dari menggembala kambing. Semua itu sesuai visi dan misi pondok: mencetak generasi Qurani yang alim, berakhlaq mulia, serta siap menghadapi perkembangan zaman. Jumlah santri lelaki 20 orang; jumlah santri wanita 7 orang.

Tentang menggembala kambing Ustaz Riyadh memberi catatan rinci, bahwa tidak ada Nabi dan Rasul pada masa mudanya tidak menggembala kambing. Pasti ada rahasia positif di baliknya. Dan pembelajaran pada Nabi dan Rasul, pastilah tidak ada yang salah, setidaknya melatih leadership. Mengingat anak-anak muda sekarang pandai namun rapuh, mencari penyelesaian secara instan.

Para santri sebagai penerima tamu menyambut kedatangan setiap tamu. Hidangannya melimpah, snak dan nasi dari katering mahal, untuk ukuran tamu biasa dan pondok pesantren berada di pinggir kota. Untuk tamu khusus panitia menyediakan prasmanan. Ada beberapa tempat wudu wanita sehingga para santri wanita dan para tamu wanita tidak mengantre. Pondok pesantren sedang giat membangun. Tanah kosong masih luas.

Setelah puas mengenal dalam Pondok Pesantren Doaqu, menjelang Asar saya pulang. Saya bersama teman harus berjibaku menunggu bus Transsemarang. Letak halte di jalan menanjak, tidak setiap bus bersedia berhenti. Tangan calon penumpang harus melambai sejak dari jauh, memberi isyarat kepada sopir, untuk mengambil ancang-ancang berhenti.

                                                                           @@@


Jumat, 16 Januari 2026

Taman Renang Alam Umbul Sidomukti

                                                                                       

Akhir-akhir ini hujan turun intens, dari pagi hingga malam. Kalau pun reda, hanya sesaat. Matahari muncul sesekali. Bahkan seringkali berhari-hari tidak menampakkan wajahnya. Sebagai orang-orang yang tinggal di kota, kami sehari-hari bergumul dengan kesibukan, lalu lintas padat penyumbang polusi napas dan mata, lahan hijau terbatas karena bangunan-bangunan berimpitan. Maka pergi ke pedesaan melihat pemandangan alam sangatlah perlu.

Pilihan saya dan rombongan jatuh ke Kawasan Wisata Alam Umbul Sidomukti. Kawasan Wisata Alam Umbul Sidomukti terletak di Jimbaran, Bandungan, Kabupaten Semarang. Tempat ini ditempuh dengan kendaraan pribadi sekitar satu tengah jam dari Kota Semarang.   

Kawasan Wisata Alam Umbul Sidomukti menyajikan beberapa tempat wisata. Untuk memasuki pintu gerbang utama, setiap wisatawan dikenai biaya Rp5.000,00, ditambah parkir kendaraan. Kemudian wisatawan akan memilih tempat wisata. Sebelum masuk tempat wisata wisatawan dikenai biaya lagi. Setiap tempat wisata berbeda tarip. Saya dan rombongan memilih tempat wisata Taman Renang Alam. Kami membayar Rp20.000,00 per orang karena bertepatan akhir pekan, begitupun jika bepergian pada hari libur nasional. Sedangkan hari biasa wisatawan membayar per orang Rp15.000,00, anak di bawah 85 cm gratis, jam operasional dari 08.00-18.00 WIB.

                                                                             

jasa sewa kuda

Di sepanjang jalan menuju kolam renang, ada taman-taman menarik untuk spot-spot foto. Saatnya menghirup udara segar dan pemandangan hijau, kata saya. Wisatawan yang ingin naik kuda, disediakan jasa sewa kuda. Ada beberapa pilihan tempat tujuan. Taripnya menyesuaikan, tergantung jauh dekat jarak yang ditempuh.

Waktu menunjuk pukul 13.00 ketika saya dan rombongan sampai di arena kolam renang. Selain kolam renang, ada kafetaria, toko suvenir dan pusat informasi, dan tempat solat representatif. Tempatnya bersih dan air melimpah. Kami salat bergantian.

Spot-spot foto di arena kolam renang didominasi pemandangan berlatar belakang tebing dan lembah. Sayang, pemandangan tertutup kabut.

Tampaknya ruang utama kafetaria sedang disewa. Mungkin mereka tergabung dalam satu komunitas. Sekilas saya melihat mereka, lelaki-perempuan, berseragam sama, atasan berwarna biru. Orang-orang berjoget di tengah, salah satu melantunkan lagu  “Koyo Jogya Istimewa”, yang popular.

                                             
                                                                                      kafetaria

Beruntung kami sudah membeli makanan dari rest area: tahu sumedang dan sukun goreng. Di samping itu, beberapa kali kami berkunjung ke tempat wisata ini, kami hafal makanan yang dijual dan memilih membawa makanan-makanan ringan dari rumah sesuai selera. Tentu saja makanan-makanan itu kami sembunyikan. Sebab ini berdampak bagi pemasukan kafetaria.

                                                                                      

                                                                         area kolam renang

Walaupun cuaca mendung, banyak pengunjung berenang, orang-orang dewasa maupun anak-anak, walaupun tidak sebanyak saat musim panas. Kebanyakan mereka dari luar Semarang. Saya menikmati jalan-jalan dan foto-foto.

Sebetulnya kami masih ingin menikmati udara sejuk pegunungan. Tapi air turun dari langit tak bisa dihindari. Gerimis mulai terasa. Waktu hampir menunjuk pukul tiga sore. Kami bergegas menuju tempat parkir, yang jaraknya bikin napas terengah-engah. Setelah itu mencari makan siang, sekalian pulang.

@@@

 


 


Jumat, 09 Januari 2026

Kupat Tahu




               Berbeda hari-hari terakhir, laiknya musim hujan, siang itu langit Magelang tak menumpahkan air. Cuaca cerah. Gerah menyelimuti badan, ingin segera menjumpai air wudu, untuk menetralisir. Setelah tamasya seputar daerah Magelang, saya dan para kerabat mampir di MAJT (Masjid Agung Jawa Tengah) Magelang untuk menunaikan salat Duhur. Tak seperti MAJT Semarang yang mewah, serasa salat di Masjid Nabawi, terkenal dengan payung-payung besarnya di pelataran, MAJT Magelang sederhana, hanya halamannya luas.

            Setelah salat saatnya kami makan siang. Kendaraan menembus lalu lintas yang ramai. Saya mengusulkan makan makanan khas daerah. Kebetulan salah satu kerabat punya langganan. Nahas, siang itu tutup. Saya khawatir jika mayoritas memilih makan makanan kekinian. Lewat di daerah kota, ada banyak makanan alternatif. Terlebih makanan-makanan kekinian. Syukurlah mumpung berkunjung ke sebuah daerah, kami sepakat makan siang dengan makanan khas daerah Magelang: kupat tahu atau ketupat tahu, dibanding makanan kekininan yang ada di setiap tempat, termasuk Semarang.

            Ada banyak penjual kupat tahu. Kami memilih jauh dari keramaian. Tempatnya representatif, masuk gang, cocok untuk sekalian beristirahat. Kebetulan siang itu sepi pengunjung. Kami satu-satunya rombongan pembeli. Saya bayangkan jika kami makan di kedai langganan dan di pinggir jalan, pasti banyak pembeli, apalagi jika harus duduk berimpitan.

            “Monggo nyicipi bakwan,” kata pedagang yang sedang menggoreng bakwan, wanita lansia, berkebaya, dan berkonde cepol. Wanita satu lagi muda, meracik bahan-bahan makanan

            “Nggih, Bu, maturnuwun,” jawab saya tanpa mengambil bakwan satu pun. Saya ingin menikmati kupat tahu secara utuh. Dengan makan bakwan terlebih dahulu, bakwan tidak lagi terasa spesial saat bercampur kupat tahu.

            Setelah menunggu sekitar setengah jam, akhirnya kupat tahu berada di depan mata.

            Selain ketupat dan tahu putih goreng, makanan lain dalam kupat tahu: bakwan, tauge, kol, sambal kacang rasa manis, toping bawang goreng dan daun seledri.

            Berbeda kupat tahu Semarang, kupat tahu Magelang sambal kacangnya encer. Terkesan kupat tahunya berkuah. Menurut saya, itu lebih sesuai disebut sambal kecap, kemudian dicampuri kacang tanah. Sebab kacang tanahnya tidak digerus secara halus dan menyatu dengan sambal kecap, bahkan banyak ukuran separuh biji. Akibatnya bongkahan-bongkahan kacang tanah itu mengambang di sambal kecap. Sesekali saya hanya makan kacang tanah.

            Melihat makanan-makanannya yang lengkap: ketupat, tahu, sayuran, kupat tahu cocok disantap sebagai makanan utama, saat perut lapar. Apalagi ditambah kerupuk. Saya menghabiskan sambal kecap saat ketupat dan makanan-makanan lain sudah habis dengan kerupuk. Sepiring kupat tahu habis dengan membayar lima belas ribu rupiah. Sebagai bekal kami tamasya ke tempat berikutnya.

@@@

Jumat, 26 Desember 2025

Masa-Masa Indah

                                                                                          

                                              tempat wisata Geblek Pari, Kulon Progo, DIY

Dua ribu dua puluh lima adalah tahun keseriusan saya menjalani kehidupan sebagai penulis. Awalnya saya ragu-ragu, apakah saya mampu menjalaninya. Keraguan itu berkaitan dengan dua hal: finansial dan pertemanan. Tapi kalau tidak saya mulai segera, kapan saya akan memulainya. Karena untuk meninggalkannya, tidak mungkin. Kegiatan menulis telanjur menjadi kebutuhan, laiknya makan dan minum.

Cara mengantisipasi jika saya menemui masalah dengan mendatangi pengajian-pengajian, sesering waktu saya miliki. Saya tinggal di daerah, yang setiap waktu ada tempat-tempat mengadakan pengajian, selain di masjid dan musala. Di sanalah bimbingan-bimbingan gratis diberikan oleh Pak Ustaz dan Bu Ustazah, berkaitan masalah-masalah yang saya hadapi, termasuk sikap dalam menghadapi dunia kepenulisan. Bimbingan-bimbingan itu selalu berdasarkan syariat-syariat. Sekalian saya belajar dan memahami, sekaligus menjalankan ajaran-ajaran agama. Dan benar, Islam agama untuk kesejahteraan ummat dan kitab suci Al-Qur’an lengkap, mambahas kehidupan dalam semua aspek.

Saya diceritakan sirah atau riwayat nabi-nabi. Karena nabi juga manusia yang juga makan dan minum, dan harus memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup lain. Hal sepele namun berarti, ketika ‘rezeki tidak selalu berupa uang’ saya dapatkan, yang sebelumnya sebagai slogan. Suatu ketika saya menginginkan makanan, dan itu makanan spesifik, saya diberi teman saat kongko di luar masjid menunggu waktu salat. Padahal makanan itu sulit saya dapatkan di warung makan. Pernah juga saya mendapatkan makanan dari tetangga, saat duduk menonton televisi. Bahkan ketika saya membutuhkan buku-buku tulis dan alat-alat tulis untuk kegiatan kepenulisan, saya mendapatkan secara gratis. Saya tidak perlu bekerja mendapatkan semua itu, dan tidak ada sesuatu kebetulan. Lalu tuntunan berpuasa, yang sebelumnya saya lakukan hanya puasa wajib dan puasa setahun sekali, dan sulit saya bayangkan sebelumnya bahwa saya mampu menjalaninya. Dan saya dimudahkan menjalaninya. Begitupun ketika finansial saya cukup untuk diri sendiri, saya tetap diberi kesempatan memberi orang lain ketika saya mendapat barang tapi saya tidak membutuhkannya. Karena berbuat baik dalam keadaan lapang maupun sempit.

 

Saya pernah mendengar ceramah dari Pak Ustaz, bahwa, kebahagiaan sesungguhnya jika kamu tidak membutuhkan siapa-siapa, dalam arti teman fisik.

Dan itu terjadi pada diri saya.

Menjalani kegiatan kepenulisan siap hidup seorang diri. Untuk riset tempat dan suasana, menemui narasumbur, maupun menulis atau mengetik, yang semua itu tidak terikat waktu, menjadikan kepenulisan tidak seperti kegiatan-kegiatan lain, yang berjalan dalam waktu tertentu, dan ada batasan-batasannya. Terkadang saya bekerja ketika orang-orang istirahat; saya liburan ketika orang-orang bekerja, begitupun sebaliknya, dan seterusnya. Tapi justru itulah yang saya suka. Saya bekerja secara fleksibel. Saya bisa bekerja sepuas saya inginkan, begitu pun ketika saya istirahat, biasanya setelah target selesai, juga sepuasnya.

Saya tidak merasa kehilangan teman-teman fisik. Saya justru senang, tidak merasakan kecewa, ketika teman yang saya tunggu, lama baru datang, misalnya, atau diingkari karena ternyata ia tidak datang, dan perasaan-perasaan tidak menyenangkan lain. Saya bertemu teman-teman fisik biasanya ketika kami ada acara, atau bertemu rutin jika mereka teman satu berkumpulan. Sebaliknya, era digital, saya mendapatkan teman-teman dumay. Seringkai unggahan-unggahan mereka membuat saya: bangun kala jatuh, berjalan kala terhenti, tersenyum kala menangis, berdiri kala tumbang, berteman kala seorang diri, dan punya harapan kala hampir putus asa. Terima kasih untuk pertemanan-pertemanan ini.

Selebihnya, saya bersenang-senang, mengeksplor ide-ide, selanjutnya, mungkin saya harus mengamati tokoh melalu orang-orang lewat atau orang-orang yang saya jumpai, membuat blue print, dan kegiatan-kegiatan kepenulisan lain, yang intinya, untuk menghasilkan karya bagus: cerpen. Dunia menjadi milik saya: pagi, siang, sore, malam.  

Allah, terima kasih untuk masa-masa indah sepanjang tahun 2025. Saya belum tentu mendapatkannya kembali tahun-tahun mendatang. Materi seringkali membuat orang lengah. Dan, kalaupun itu tejadi pada diri saya kelak, cukuplah karena saya lupa, bukan lalai.

@@@


Jumat, 12 Desember 2025

Ruang Waktu

                                                                                         

ruang utama Masjid Agung Semarang

       Siang itu lantunan suara dari masjid tak seperti biasanya, mengurangi panas matahari yang mendera. Satu dua orang keluar atau masuk melewati pintu utama masjid. Bukan Pak Ustaz sedang berceramah, atau salawatan diiringi musik rebana, karena acara-acara seperti itu biasanya sore hari, melainkan alunan merdu orang membaca Al-Quran seperti dalam acara hajatan. Pembacaan disertai nada dulu sering saya lihat dan dengar, melalui acara lomba di telivisi: MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur’an). Seiring perkembangan zaman, banyak pula stasiun televisi berdiri, mungkin acara itu masih disiarkan, tapi saya lebih memilih statsiun televisi menyiarkan khusus berita.

            Saya dari bepergian jauh hendak pulang, lalu penasaran, dan mampir sekalian beristirahat. Di serambi sisi kanan, ada Pak Ustaz, di depannya, jemaah lelaki dan perempuan dengan pemisah tirai kain hijau sebahu orang duduk. Mereka duduk lesehan menghadapi meja-meja lipat, di atasnya kitab-kitab suci.

            Itu awal perkenalan saya lebih dekat dengan Seni Baca Al-Qur’an, yang kemudian ruang memberi waktu saya untuk mengikutinya. Prosesnya tidak mudah. Beberapa kali saya hanya duduk memperhatikan dari jauh. Pak Ustaz melantunkan ayat dengan nada kemudian perserta menirukan. Setelahnya, mereka membaca satu per satu.

            “Mari ke sini,” kata peserta wanita, mencuri waktu, saat giliran peserta laki-laki membaca.

            Saya mengangguk dan tersenyum. Begitu berkali-kali respon saya, hingga suatu saat saya mengikuti, tepatnya setelah Lebaran tahun ini. Kursus Seni Baca Al-Qur’an ini gratis, berlangsung dari pukul 13.00-14.00 setiap Minggu.

            Setiap peserta diberi selembar kertas berisi nada-nada panduan. Ada tujuh macam nada: bayati, shoba, hijaz, nahawand, sika, rost, jiharka, masing-masing beserta contoh ayat-ayat, untuk kami praktikkan setiap awal kursus. Kemudian Pak Ustaz membimbing, menerapkan nada-nada itu dalam ayat-ayat di Al-Qur’an. Ayat-ayat dipilih sesuai momen-momen tertentu. Seperti khitan, orang akan pergi haji, pernikahan, atau tahun baru Hijriah. Ini untuk menyiapkan bila suatu saat di antara kami ada yang diminta kerabat, tetangga, atau kenalan, melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an.

            Setiap peserta wajib mengerti tajwid. Tajwid menyangkut panjang pendek huruf dan ketepatan pelafalan. Seni Baca Al-Quran dilantunkan melalu palantang suara dan didengar orang banyak. Jika terjadi kesalahan, terdengar jelas, termasuk tidak memahami tajwid.

            Akhirnya saya mendapat giliran membaca sendiri, entah pada pertemuan ke berapa. Badan panas dingin, suara serak, pegang pelantang suara gemetar. Dan itu saya alami berkali kali. Sampai suatu saat saya merasakan berbeda. Saya begitu percaya diri, suara tidak serak, tidak gemetar, pegang pelantang suara tidak terasa berat, hasilnya pun maksimal. Begitu kursus selesai, seperti ada beban terlepas, yang selama ini menggelayuti. Saya tidak sabar menunggu hari Minggu berikutnya.

            Ruang telah memberi waktu kepada diri saya membuka mata bahwa ada pengetahuan, menjadi manusia maju selangkah, untuk tiga tahapan ini: mengikuti kursus yang semula ragu, keberanian membaca sendiri, dan menemukan membaca nikmat. Sebab begitulah manusia selayaknya, senantiasa membuka diri.

@@@


 

Jumat, 05 Desember 2025

Penantian Suroso

                                                                                         

           Bosan. Itu keadaan saya alami suatu ketika. Selama ini saya menulis cerpen-cerpen kontemporer. Ide-ide timbul dari pengalaman sendiri, atau mendengar cerita-cerita orang lain. Bosan menggerakkan pikiran saya untuk mencari sesuatu lain, keluar dari lingkaran yang selama ini melingkari, melihat dunia baru, dan berharap memperluas model karya.

            Seperti biasa, membaca adalah kebutuhan sehari-hari saya, dan hari Minggu saatnya membaca koran cetak. Saya membaca karya atau cerpen berbeda. Kali ini berlatar belakang sejarah. Saya mendapat wawasan baru, menjadi bersemangat, dan menantang pada diri saya, mengapa saya tidak menulis cerpen berlatar belakang sejarah. Sesuatu yang belum pernah saya kerjakan.

            Untuk mempermudah dan mendedikasikan cinta tanah kelahiran, saya akan menulis cerpen berlatar belakang sejarah Kota Semarang.

            Saya pergi ke Perpusda (Perpustakaan Daerah) Jawa Tengah. Saya naik ke lantai dua, tempat biasa saya meminjam buku. Saya bertanya kepada petugas, di mana saya bisa menemukan buku-buku tentang sejarah Kota Semarang. Petugas meminta saya turun. Di lantai satu, bagian referensi, di sana saya akan menemukan buku tentang sejarah Kota Semarang. Di bagian referensi, saya bertanya kepada petugas di mana saya bisa menemukan buku-buku sejarah Kota Semarang. Petugas menunjuki rak paling depan. Saya menemukan buku yang saya cari.

Ternyata buku-buku di bagian referensi tidak boleh dibawa pulang. Saya diminta memfotokopi bagian-bagian penting. Nahas, petugas fotokopi Perpusda absen, kabarnya karena sakit. Salah satu petugas perpustakaan baik hati. Ia memberikan kunci motornya dan menyuruh petugas parkir mengantar saya di jasa fotokopi terdekat. Meski tidak dekat, karena kami harus pergi ke wilayah Undip, di sana banyak jasa fotokopi. Jalan Sriwijaya, tempat Perpusda berdiri, adalah kawasan perkantoran dan toko-toko.

                                                                          

      Cerpen ini menceritakan tentang seorang anak yang menginginkan kebebasan. Sehingga ia bersekolah dengan tenang. Ia bersekolah di Jalan Bojong, sekarang Jalan Pemuda, hingga kini sekolah itu masih ada: SMA Negeri 3.

Waktu itu penjajah Jepang masih bercokol di Indonesia, jelang Indonesia merdeka. Para Guinseikan (petinggi Jepang) sering mengitari Jalan Bojong, tempat kantor berita Domei berada, untuk memantau berita-berita penting dari jakarta.

            Alhamdulillah cerita itu berjodoh, di buku Antologi Cerpen Suara Perempuan yang diadakan oleh Arsip dan Perpustakaan Kota Semarang, setelah melalui penyesuaian, sesuai tema.

            Selamat membaca bagi teman-teman yang mendapatkan bukunya, semoga bermanfaat dan menghibur.

@@@


Jumat, 28 November 2025

Bambu Cinta Nan Menyala

                                                                                  

bambu cinta

Seringkali timbul rasa iri setiap kali saya bertamasya ke pedesaan atau melewati daerah, terhampar hijau pepohonan. Entah ladang, apalagi rumah-rumah dengan tanaman di sekelilingnya. Sementara di lingkungan rumah saya, semua lahan telah tertutup ubin atau plester. Saya pernah menanam cabe, tapi mencari tanah subur susah, akhirnya biji cabe yang saya sebar tidak tumbuh.

Suatu saat saya membaca koran. Departemen Pertanian menyelenggarakan pameran tanaman hias, anturium, dan aglaonema. Membaca kata ‘tanaman’ hati saya senang. Saya catat tanggal dan harinya.

Siang tak terik, karena sedang musim hujan, ketika saya tiba di pelataran Wonderia, tempat yang dulu pernah menjadi kebun binatang, kemudian menjadi taman hiburan anak-anak, lalu ditutup karena terjadi kecelakaan pada salah satu wahananya, setelah itu, Wonderia dibiarkan terbengkelai. Begitu saya masuk pintu gerbang pameran, kursi-kursi tertata di bagian kiri, dipayungi tenda perpaduan warna putih dan merah menyala. Di ujung ada panggung, dengan gambar sosok otoritas Kota Semarang.

“Di kantor gubenuran sedang ada acara. Sebagian dari mereka mengisi acara di sana,” kata salah satu petugas yang saya temui ketika saya bertanya mengapa suasana pameran sepi. “Biasanya sore ramai pengunjung,” tambahnya. Kemudian ia mempersilakan saya jalan ke kanan, menuju stan-stan tanaman. 

                                                                                       

tanaman anggrek

Stan pertama adalah penjual cendera mata. Cendera mata juga dijual di sana. Pedagangnya asal dari Jawa Barat.

“Saya telanjur cinta profesi. Sahabat saya, yang senasib, juga tinggal di Semarang,” kata wanita gemuk terlihat gesit. Saya terpesona mendengar ceritanya: dua sahabat, kini kembali berkolaborasi membuat kerajinan tangan, sebagaimana di daerah asal mereka. Mereka tidak mengeluh saat dipisahkan padahal bisnis sedang maju. Mereka dipertemukan lagi saat mendapat suami sama-sama orang Semarang. Kecintaan terhadap kerajinan tangan, persahabatan, membuat mereka mendapat keberuntungan. Kerajinan tangan yang dibuat sekarang bukan asal Jawa Barat, melainkan kerajinan tangan dari eksplorasi potensi Kota Semarang.

                                                                         

                                                                           tanaman anturium

Sesuai tema pameran, hanya satu dua penjual cendera mata, selebihnya stan-stan tanaman. Beberapa stan menjual jenis-jenis tanaman anggrek. Stan-stan lain menjual jenis-jenis anthurium dan aglaonema. Sejauh saya memandang, jenis-jenis anturium dan aglaonema hanya tanaman daun. Tapi satu tanaman dalam satu pot kecil harganya hingga jutaan.

“Sudah dipasang tarip tinggi, giliran akan dibayar pembeli, malah katanya buat koleksi sendiri,” kata karyawan terkekeh, seorang lelaki berpostur tinggi besar, yang semula saya kira pemilik tanaman. Karyawan itu baru saja menelepon pemiliknya. Akhirnya karyawan menyatakan bahwa tanaman-tanaman di meja depan hanya dipamerkan.

“Begitulah cinta,” kata calon pembeli sambil tertawa, kemudian memilih aglaonema jenis lain.

                                                                         

tanaman bonsai

Ada juga pameran tanaman bonsai, yang tergabung dalam komunitas tanaman bonsai. Para penjual tanaman hias sadar diri, era digital, ponsel menjadi andalan setiap orang, pengunjung diperbolahkan swafoto walau tidak membeli.

Saya tertegun pada tanaman yang dirangkai sedemikian rupa, membentuk daun waru sebagai lambang cinta.

“Ini namanya bambu cinta,” katanya ketika saya tanya tanaman apa itu. Tanaman bambu, dibentuk khusus, lalu diberi pita merah, ia menamainya bambu cinta.

“Bapak tidak saying, misal dirusak oleh hama, tikus, misalnya,” kata saya.

“Oh, tidak, tikus saya ajak bicara, ‘tikus jangan dirusak ya, kamu cari makan di tempat lain,’. Nyatanya tidak dimakan. Aman saja. Itu buktinya.”

                                                                                 

tanaman aglaonema

Satu jam lebih saya melihat-lihat pameran tanaman hias. Dalam perjalanan pulang, saya merasakan pemilik bambu cinta mewakili orang-orang yang dengan cinta telah menemukan sesuatu berharga dalam hidup mereka. Wanita yang menekuni hobi kerajinan tangan dan kembali berkolaborasi dengan sahabatnya, pemilik tanaman yang tak menjual sebagian asetnya, dan pemilik bambu cinta yang tak membunuh binatang sebagai musuh manusia, melainkan berbicara dengan setulus hati. Cinta memberi energi orang-orang untuk berdamai dengan kesulitan, dan akhirnya menemukan keasyikan dalam hidup mereka.

Saatnya saya berdamai dengan yang ada.

@@@