Karena
situasi dan kondisi, saya pergi ke tempat wisata menggunakan kendaraan pribadi,
atau bus, atau kendaraan umum lain, atau menyewa kendaraan jika berombongan. Entah
kapan terakhir saya naik kereta api. Ketika komunitas yang saya ikuti
merencanakan tamasya ke Purwodadi, Grobogan, naik kereta api, saya langsung
mendaftar.
Kami naik kereta api Kedung Sepur
hingga tujuan akhir, Ngrombo. Kedung Sepur termasuk kereta lokal. Kereta api
ini hanya menyediakan kelas Ekonomi (C), harga Rp10.000,00 per penumpang, satu
kali perjalanan, untuk semua jurusan stasiun. Ada tujuh stasiun dilewati
setelah Stasiun Semarang Poncol sebagai titik pemberangkatan: Stasiun Semarang
Tawang, Stasiun Alastua, Stasiun Brumbung, Stasiun Gubug, Stasiun Karangjati,
Stasiun Sedadi, dan Stasiun Ngrombo, titik akhir perjalanan.
Dari Semarang, Kedung Sepur
beroperasi sehari dua kali: pagi 07.05-08.52 WIB dengan KA Kedung Sepur 496,
siang 13.50-15.37 WIB dengan KA Kedung Sepur 498. Tersedia dua gerbong setiap
keberangkatan.
Sebagaimana layanan kereta api pada
umumnya, pemesanan tiket melalui aplikasi Access by KAI mulai H-7 atau di loket
stasiun, 3 jam sebelum keberangkatan (jika kuota tempat duduk masih tersisa). Pembayaran
melalui QRIS, e-wallet, atau account virtual.
Ketua
rombongan memesan tiket secara kolektif, untuk berangkat dan pulang setiap
anggota. Satu jam sebelum keberangkatan, satu per satu mulai berdatangan,
sesuai saran pengurus. Sebab jika terlambat dan kereta sudah berangkat, tiket
hangus dan tidak diganti. Tentu saja tidak ada yang menyia-nyiakan. Kapan lagi
berwisata naik karena api kalau tidak sekarang. Biasanya kami pergi menyewa
kendaraan.
Naik kereta ini mengingatkan saya pada
bus Transsemarang. Ia berhenti sebanyak stasiun yang dilewati. Lalu menaikkan
dan menurunkan penumpang.
“Naik kereta sekarang tertib. Nggak ada
pedagang asongan masuk,” kata teman membuka cerita. Tempat duduk berhadapan, satu
bangku dua orang dan satu bangku tiga orang, kami mudah berkomunikasi.
“Tau nggak, waktu itu ada pedagang
minuman. Eh dia nggak kuat bawa nampan, kali. Minuman tumpah, pas di kepalaku…”
cerita teman lain dengan gerak kedua tangan meyakinkan.
“Ha?” kata teman yang duduk di
sebelahnya.
“Terus gimana?” tanya saya.
“Basah kuyup?” tanya teman lain
“Badanmu kepanasan?” yang lain juga
khawatir.
“Untung minuman dingin. Seperti
mandi air es. Ha ha ha…” jawabnya.
Kami semua tertawa. Saat itu siang
hari. Suasana gerah, katanya.
Di sepanjang perjalanan masing-masing
bercerita sesuai pengalaman naik kereta api. Sambil berbagi bekal makanan. Seperti
sedang nongkrong di warung. Cerita sambil makan. Asyiknya naik Kererta Api
Kedung Sepur.
Setelah menempuh waktu hampir dua
jam, kami tiba di Stasiun Ngrombo. Berbeda dengan bus Transsemarang, saat di
tempat akhir pemberhentian, penumpang bisa dihitung dengan jari. Penumpang Kedung
Sepur tetap banyak. Mayoritas penumpang adalah para wisatawan. Setidaknya Minggu
itu, ada tiga komunitas memenuhi dua gerbong tujuan sama. Belum lagi penumpang
perseorangan.
Saatnya bersenang-senang, menikmati liburan.
Setelah
Asar, kami bersiap ke Stasiun Ngrombo untuk pulang. Tepat pukul 17.05 WIB kereta
api Kedung Sepur 497 mulai berangkat.
Saat pulang, teman dekat duduk, dua orang
dari komunitas lain. Tapi kami berlima seperti teman lama. Sebab pada
keberangkatan kami sudah bertemu walaupun tidak menyapa karena tidak mengenal. Lalu
kami bercerita seputar kegiatan komunitas masing-masing.
Sesekali kami menanggapi suasana di
luar. Gelap. Jarak antarrumah berjauhan, dengan penerang bohlam. Semakin lama,
seiring kereta melaju, rumah-rumah berimpitan, kemudian ada supermarket, juga
lampu warna warni dari bangunan kafe. Dan pada pukul 18.47 WIB kereta berhenti.
Gemebyar lampu-lampu di Stasiun Semarang Poncol menyambut kepulangan kami.
Keasyikan selama perjalanan bersama Kedung
Sepur tak mungkin saya lupakan.
@@@











