Ini
cerita sehubungan dengan naik kereta api Kedung Sepur. Setelah turun di stasiun
Ngrombo, kami beristirahat, duduk-duduk santai memenuhi kursi-kursi, arah pintu
gerbang stasiun. Sebagian lain berswafoto; sebagian lagi buang air.
“Kita beli nasi pecel kapan?” tanya
salah satu pengurus seakan dapat membaca perasaan saya. Sarapan nasi rames
seperti tidak membekas di perut saya. Padahal waktu baru menunjuk pukul sembilan.
Tidak lengkap pergi Grobogan tidak
makan nasi pecel. Begitu komentar kebanyakan dari kami. Yang lain ikut-ikutan,
ingin makan nasi pecel.
Tidak hanya tiket kereta api, kami
memesan nasi pecel secara kolektif. Pedagangnya berada di lain tempat. Kami memesan
lewat telepon. Setelah diambil kesepakatan, kami makan nasi pecel sebagai bekal
pulang. Lebih efektif makan makanan lain di tempat-tempat kami singgahi. Di samping
itu, butuh waktu lama melayani tiga puluh orang lebih, jika saat itu juga makan
nasi pecel.
Menurut buku Kuliner Semarangan,
penerbit Andi, dari laporan Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah, 2016, Kabupaten
Grobongan penghasil jagung tertinggi di Jawa Tengah: 700.491 ton. Setelah itu Kendal:
209.032 ton.
Saya teringat penjual nasi jagung
langganan. Ia juga berasal dari sana, tepatnya Purwodadi, ibu kota Kabupaten Grobogan.
Ia membuat sendiri nasi jagung jualannya. Nasi jagung itu dipadu dengan gudangan
dan keripik ikan asin. Nasi jagung satu dunak ludes sebelum matahari
menampakkan wajahnya.
Selain nasi jagung, olahan lain dari
jagung adalah emping jagung, yang banyak dijual di toko-toko oleh-oleh. Selebihnya,
mereka menjual makanan-makanan yang juga dijual di pusat oleh-oleh tempat-tempat
wisata pada umumnya, termasuk Semarang. Seperti keripik tempe, keripik tahu, selai
pisang, kacang atom, dll.
Nasi pecel atau nasi janganan juga menjadi
makanan utama. Ada yang menyebut nasi pager. Disebut nasi pager karena
sayur-sayuran dari tanaman pekarangan atau pagar penduduk setempat. Seperti bayam,
daun papaya, dll. Nasi ini disajikan dengan sambal kacang. Disantap dengan lauk
bakwan, mendoan, rempeyek, atau tahu susur, dan segelas teh hangat.
Sekitar pukul empat sore nasi pager
dibagikan. Sebagaimana di tempat wisata, harga makanan mahal dibanding di
tempat biasa. Begitupun nasi pager. Satu porsi delapan ribu rupiah. Padahal di
pedagang pecel langganan saya, seporsi cuma enam ribu rupiah. Sayurnya komplit
dan banyak. Juga nasinya.
“Yah, itung-itung buat isi perut,” kata
seorang teman menghibur. Perut kosong setelah tamasya, penyakit mudah datang. Yang
lain mengiyakan.
Terasa nikmat makan di saat perut
keroncongan.
Setengah
jam berikutnya, para penumpang KA Kedung Sepur mengantre. Di balik pagar jeruji
besi, kereta siap berangkat dan mengantar mereka ke tujuan akhir, Semarang.
@@@











