Berbeda hari-hari terakhir, laiknya musim hujan, siang itu langit Magelang tak menumpahkan air. Cuaca cerah. Gerah menyelimuti badan, ingin segera menjumpai air wudu, untuk menetralisir. Setelah tamasya seputar daerah Magelang, saya dan para kerabat mampir di MAJT (Masjid Agung Jawa Tengah) Magelang untuk menunaikan salat Duhur. Tak seperti MAJT Semarang yang mewah, serasa salat di Masjid Nabawi, terkenal dengan payung-payung besarnya di pelataran, MAJT Magelang sederhana, hanya halamannya luas.
Setelah salat saatnya kami makan
siang. Kendaraan menembus lalu lintas yang ramai. Saya mengusulkan makan makanan
khas daerah. Kebetulan salah satu kerabat punya langganan. Nahas, siang itu
tutup. Saya khawatir jika mayoritas memilih makan makanan kekinian. Lewat di
daerah kota, ada banyak makanan alternatif. Terlebih makanan-makanan kekinian. Syukurlah
mumpung berkunjung ke sebuah daerah, kami sepakat makan siang dengan makanan
khas daerah Magelang: kupat tahu atau ketupat tahu, dibanding makanan kekininan
yang ada di setiap tempat, termasuk Semarang.
Ada banyak penjual kupat tahu. Kami memilih
jauh dari keramaian. Tempatnya representatif, masuk gang, cocok untuk sekalian beristirahat.
Kebetulan siang itu sepi pengunjung. Kami satu-satunya rombongan pembeli. Saya bayangkan
jika kami makan di kedai langganan dan di pinggir jalan, pasti banyak pembeli,
apalagi jika harus duduk berimpitan.
“Monggo nyicipi bakwan,” kata
pedagang yang sedang menggoreng bakwan, wanita lansia, berkebaya, dan berkonde
cepol. Wanita satu lagi muda, meracik bahan-bahan makanan
“Nggih, Bu, maturnuwun,” jawab saya
tanpa mengambil bakwan satu pun. Saya ingin menikmati kupat tahu secara utuh. Dengan
makan bakwan terlebih dahulu, bakwan tidak lagi terasa spesial saat bercampur
kupat tahu.
Setelah menunggu sekitar setengah
jam, akhirnya kupat tahu berada di depan mata.
Selain ketupat dan tahu putih goreng,
makanan lain dalam kupat tahu: bakwan, tauge, kol, sambal kacang rasa manis,
toping bawang goreng dan daun seledri.
Berbeda kupat tahu Semarang, kupat
tahu Magelang sambal kacangnya encer. Terkesan kupat tahunya berkuah. Menurut saya,
itu lebih sesuai disebut sambal kecap, kemudian dicampuri kacang tanah. Sebab kacang
tanahnya tidak digerus secara halus dan menyatu dengan sambal kecap, bahkan
banyak ukuran separuh biji. Akibatnya bongkahan-bongkahan kacang tanah itu mengambang
di sambal kecap. Sesekali saya hanya makan kacang tanah.
Melihat makanan-makanannya yang
lengkap: ketupat, tahu, sayuran, kupat tahu cocok disantap sebagai makanan
utama, saat perut lapar. Apalagi ditambah kerupuk. Saya menghabiskan sambal
kecap saat ketupat dan makanan-makanan lain sudah habis dengan kerupuk. Sepiring
kupat tahu habis dengan membayar lima belas ribu rupiah. Sebagai bekal kami tamasya
ke tempat berikutnya.
@@@














